Mengenal Masjid Lautze, Masjid Unik Bergaya Oriental

0
18
Mengenal Masjid Lautze, Masjid Unik Bergaya Oriental
Mengenal Masjid Lautze, Masjid Unik Bergaya Oriental

Ibadah.co.id – Tak banyak masjid di Indonesia yang memiliki arsitektur dan gaya bangunan oriental. Dari banyaknya masjid yang ada, Masjid Lautze adalah salah satu yang memiliki gaya bangunan yang unik khas oriental.

Seperti dilansir jpnn.com pada 13/2/21, sekilas terkesan sederhana dan terlihat biasa saja. Didominasi dengan ornamen berwarna merah, kuning, dan hijau, secara kasat mata orang tak akan menyadari bangunan yang terletak di Jalan Lautze nomor 87-89, Pasar Baru, Jakarta Pusat, merupakan masjid.

Literasi membenarkan bangunan itu Masjid Lautze yang didirikan oleh Yayasan Haji Karim Oei pada 1991.

Berbaur dengan bangunan ruko khas kawasan pecinan, Masjid Lautze tak memiliki kubah layaknya masjid di Indonesia.

Namun siapa sangka bangunan yang tampak biasa itu menjadi saksi sekaligus menjembatani ribuan orang beretnik Tionghoa di Indonesia untuk mengenal Islam.

Kental dengan nuansa oriental, Masjid Lautze diresmikan secara langsung oleh Presiden Ketiga RI BJ Habibie pada 1994 yang kala itu mengemban tugas sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat.

“Saat itu (masa saat Masjid Lautze diresmikan) kami mencoba menjadi jembatan. Di masa lalu masalah pembauran antara etnik masih sangat berisiko. Nah, maka dihadirkanlah masjid ini untuk menuntaskan masalah pembauran sehingga bisa tercipta kerukunan meski antaretnik, antarsuku, antarkeyakinan,” kata Yusman Iriyansah, salah seorang pengurus Masjid Lautze menceritakan keberadaan masjid berusia 27 tahun itu.

Berdirinya Masjid Lautze tak terlepas dari sosok Oei Tjeng Hien atau kerap dikenal sebagai Karim Oei.

Tokoh itu merupakan seorang pria berlatar belakang etnis Tionghoa dan memilih menjadi mualaf hingga akhirnya benar-benar mencintai dan mendedikasikan hidupnya untuk Tanah Air Indonesia.

Karim Oei bahkan menjadi tokoh kenamaan di Muhammadiyah di eranya, ia pun sempat bertanggung jawab atas operasional Masjid Agung Istiqlal sebagai pimpinan harian pada era 70-an.

Ketika Karim Oei tutup usia, maka untuk mengenang sosoknya yang berpengaruh didirikanlah sebuah badan hukum sosial bernama Yayasan Karim Oei oleh rekan sejawatnya termasuk salah satu pendirinya adalah Ali Karim Oei yang merupakan anak dari Kariem Oei.

Lokasi yang kini menjadi Masjid Lautze pun awalnya merupakan ruko sewaan yang menjadi kantor pertama beroperasinya Yayasan Karim Oei.

Dari yang awalnya berfungsi sebagai pusat informasi untuk warga Tionghoa mengenal Islam, lambat laun dorongan serta dukungan menghadirkan tempat ibadah di kawasan pecinan itu pun akhirnya tumbuh.

“Alhamdulillah dalam perkembangannya, pemilik ruko menawarkan kami untuk membeli gedung ini dibanding menyewa. Sempat kebingungan juga pengurus untuk cari donatur mendanai pembelian lokasi ini, namun akhirnya jawaban bantuan datang dari BJ Habibie yang kala itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek). Dia beli rukonya dan dihibahkannya ruko ini kepada Yayasan Karim Oei,” kata Yusman menceritakan latar belakang pembangunan Masjid Lautze.

Pemilihan warna hingga bentuk Masjid Lautze yang terkesan mirip bangunan di kampung pecinan atau mengikuti ornamen Kelenteng rupanya memang dipilih pengurus Masjid Lautze agar warga beretnis Tionghoa yang baru mau mengenal Islam saat bertandang tidak merasa canggung.

Interior ruangan bagian dalam Masjid didominasi warna putih, setiap sisi tembok diberi ornamen lis kayu berwarna merah yang dibentuk menyerupai  kubah. Tidak hanya melakukan penyesuaian dari segi warna, berbagai ornamen khususnya kaligrafi dengan aksara Mandarin pun cukup banyak menghiasi bagian dalam gedung setinggi empat lantai itu. (RB)