UAS: Makan Daging Babi Bisa Halal, Gimana Ceritanya?

UAS: Makan Babi Bisa Halal, Gimana Ceritanya?
UAS: Makan Babi Bisa Halal, Gimana Ceritanya?

Ibadah.co.id – Baru-baru ini Ustaz Abdul Somad alias UAS menyampaikan sebuah ceramah yang di dalamnya membahas tentang daging babi. Dalam Islam mengkonsumsi daging babi hukumnya. Namun UAS mengungkap bahwa mengkonsumsi daging babi bisa jadi halal dengan syarat.

Seperti dilansir banten.suara.com pada 19/7/21, Ustaz Abdul Somad atau yang akrab disapa UAS baru-baru ini menghebohkan publik lantaran sebut makan babi tak selamanya haram.

UAS sebut makan babi tak selamanya haram dan bisa saja halal dalam keadaan tertentu.

UAS sebut makan babi tak selamanya haram diungkapkan UAS saat menghadiri diskusi virtual bersama IDI.

UAS diskusi dengan IDI ditayangkan di kanal Youtube Ustaz menjawab yang tayang Minggu (18/7/2021).

“Babi itu haram, tapi makan babi tidak selamanya haram,” ujar Ustaz Abdul Somad.

Berdasarkan tayangan video tersebut, UAS awalnya menjelaskan bahwa babi yang dipotong dengan menyebut nama Allah tidak akan membuat dagingnya menjadi halal.

Tak hanya itu, saat dimasak di rumah makan muslim makanan tersebut tetap haram dikonsumsi.

“Babi tidak bisa jadi halal. Babi dipotong atas nama Allah, tetap haram. Babi direndang atau digulai, tetap haram. Babi dimasak rumah makan muslim juga haram,” ungkapnya.

Namun, Ustaz Somad mengungkapkan, ada satu momen kondisi yang membuat makanan dari daging babi menjadi halal dikonsumsi umat Islam.

“Tapi makan babi bisa halal. Nah, gimana ceritanya?,” tutur Abdul Somad.

UAS menyebut bisa menyantap daging babi bisa saja halal saat kondisi darurat. Misalnya, terjebak di tengah hutan, tersesat, dan tak menemukan makanan lain selain babi.

“Jadi, ketika masuk di dalam hutan, dan di dalam hutan itu tidak ada makanan, tidak ada pisang, tidak ada umbi-umbian. Sementara (saat itu) pilihannya hanya babi atau mati,” jelasnya.

Karenanya, UAS menekankan makan daging babi tidak selamanya haram namun bisa jadi halal apabila mualim tengah menghadapi kondisi darurat tersebut agar umat Islam tak mati kelaparan. “Maka saat itu tidak boleh (umat Islam) pilih mati. Jadi, boleh makan babi karena (situasinya) darurat,” ujarnya. (RB)

1 COMMENT