Surat An-Nas Ayat 1-6, Arab, Arti dan Tafsirnya

0
21
Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Fatihah Ayat 4, Pemilik Hari Pembalasan
Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Fatihah Ayat 4, Pemilik Hari Pembalasan

Ibadah.co.id – Surat An-Nas ayat 1-6 lengkap beserta tulisan Arab, Arti dan tafsirnya dapat kalian baca pada artikel ini.

Di dalam surat An-Nas terdapat anjuran untuk selalu berlindung kepada Allah dari segala musibah yang menimpanya.

Juga, surat An-Nas dikategorikan surat pendek dan menjadi surat terakhir dalam Al-Qur’an.

Dilansir Ibadari dari laman Quran Kemenag, Sabtu (03/10), berikut merangkum tulisan Arab, Arti dan tafsir Surat An-Nas Ayat 1-6 sebagai berikut.

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ – ١

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,

Tafsir Ayat 1

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad termasuk pula di dalamnya seluruh umatnya agar memohon perlindungan kepada Tuhan yang menciptakan, menjaga, menumbuhkan, mengembangkan, dan menjaga kelangsungan hidup manusia dengan nikmat dan kasih sayang-Nya serta memberi peringatan kepada mereka dengan ancaman-ancaman-Nya.

مَلِكِ النَّاسِۙ – ٢

Raja manusia,

Tafsir Ayat 2

Allah menjelaskan bahwa Tuhan yang mendidik manusia itu adalah yang memiliki dan yang mengatur semua syariat, yang membuat undang-undang, peraturan-peraturan, dan hukum-hukum agama. Barang siapa yang mematuhinya akan berbahagia hidup di dunia dan di akhirat.

اِلٰهِ النَّاسِۙ – ٣

sembahan manusia,

Tafsir Ayat 3

Allah menambah keterangan tentang Tuhan pendidik manusia ialah yang menguasai jiwa mereka dengan kebesaran-Nya. Mereka tidak mengetahui kekuasaan Allah itu secara keseluruhan, tetapi mereka tunduk kepada-Nya dengan sepenuh hati dan mereka tidak mengetahui bagaimana datangnya dorongan hati kepada mereka itu, sehingga dapat mempengaruhi seluruh jiwa raga mereka.

Ayat-ayat ini mendahulukan kata Rabb (pendidik) dari kata Malik dan Ilah karena pendidikan adalah nikmat Allah yang paling utama dan terbesar bagi manusia. Kemudian yang kedua diikuti dengan kata Malik (Raja) karena manusia harus tunduk kepada kerajaan Allah sesudah mereka dewasa dan berakal. Kemudian diikuti dengan kata Ilah (sembahan), karena manusia sesudah berakal menyadari bahwa hanya kepada Allah mereka harus tunduk dan hanya Dia saja yang berhak untuk disembah. Allah menyatakan dalam ayat-ayat ini bahwa Dia Raja manusia. 

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ – ٤


dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi,

Tafsir Ayat 4

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan manusia agar berlindung kepada Allah Rabbul-‘Alamin dari kejahatan bisikan setan yang senantiasa bersembunyi di dalam hati manusia.

Bisikan dan was-was yang berasal dari godaan setan itu bila dihadapkan kepada akal yang sehat mesti kalah dan orang yang tergoda menjadi sadar kembali, karena semua bisikan dan was-was setan yang akan menyakiti manusia itu akan menjadi hampa bila jiwa sadar kembali kepada perintah-perintah agama.

Begitu pula bila seorang menggoda temannya yang lain untuk melakukan suatu kejahatan, tetapi temannya itu berpegang kuat dengan perintah-perintah agama niscaya akan berhenti menggoda dan merasa kecewa karena godaannya itu tidak berhasil namun ia tetap menunggu kesempatan yang lain.

الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ – ٥

yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

Tafsir Ayat 5

Allah menerangkan dalam ayat ini tentang godaan tersebut, yaitu bisikan setan yang tersembunyi yang ditiupkan ke dalam dada manusia, yang mungkin datangnya dari jin atau manusia.

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ – ٦

dari (golongan) jin dan manusia.”

Tafsir Ayat 6

Allah menerangkan dalam ayat ini tentang godaan tersebut, yaitu bisikan setan yang tersembunyi yang ditiupkan ke dalam dada manusia, yang mungkin datangnya dari jin atau manusia. (HN/Kontribitor)