Inspiratif! Sosok Milenial Ini Terbitkan Buku “Mushaf Nusantara” Saat Pandemi

Inspiratif! Sosok Milenial Ini Terbitkan Buku
Inspiratif! Sosok Milenial Ini Terbitkan Buku "Mushaf Nusantara" Saat Pandemi

Ibadah.co.id –Di tengah pandemi, berbagai aktivitas dibatasi dan masyarakat dianjurkan untuk isolasi mandiri. Meski demikian, kondisi yang terbatas justru memicu Zainal Abidin Sueb untuk menulis buku. Sabtu (26/6) lalu ia telah meluncurkan sebuah buku dengan judul “Mushaf Nusantara: Jejak, Ragam, dan Para Penjaganya”.

Pemuda asal Lahar ini memang bercita-cita menjadi penulis sebelum kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sejak di bangku Aliyah, ia mengasah kemampuan menulisnya di majalah Experience MA Salafiyah Kajen.

Zainal Abidin Sueb mengaku terinspirasi untuk menulis buku saat ada bedah buku Syekh Mutamakkin karangan Gus Zainul Milal Bizawie, salah satu keluarga Salafiyah Kajen yang kini aktif mengembangkan Islam Nusantara Center Jakarta.

“Ketika itu saya masih kelas 2 Aliyah,” ujarnya.

Zainal juga beruntung saat Aliyah tergabung dalam ekstra Teasa (Teater Salafiyah). Di ekstrakurikuler itu, ia beberapa kali membaca dan berlatih menulis sastra seperti puisi dan cerpen.

Menyusun Buku di Tengah Pandemi

Buku Mushaf Nusantara merupakan buku solo yang pertama kali diterbitkan Zainal Abidin Sueb. Laki-laki putra dari pasangan Sueb dan Rumisih ini terbesit pikiran untuk menyusun buku pasca lebaran 2020.

Saat itu, ia tergabung sebagai penulis kontributor di tafsiralquran.id, salah satu website keislaman yang fokus menggali khazanah tafsir dan Al-Qur’an dengan spirit keindonesiaan.

Zainal bersyukur karena dibebaskan oleh Pimpinan Redakturnya untuk menulis apapun yang berkaitan dengan Mushaf Al-Qur’an di Nusantara. Atas kesempatan itulah, akhirnya ia mulai menyusun dan merangkai berbagai tulisan yang sudah terbit baik di tafsiralquran.id, jurnal, hingga ringkasan dari penelitian strata satunya menjadi satu buku dengan tebal xviii+254 halaman.

Zainal menekankan, meski terdapat istilah ilmiah yang bersinggungan dengan ulumul Qur’an dan ilmu pernaskahan kuno (filologi), namun bukunya ditulis dengan ringan dan sederhana.

“Buku ini saya ibaratkan sebagai pengantar untuk memasuki rimbunnya khazanah Mushaf Nusantara,” imbuhnya.

Buku ini mencakup tiga bagian, bagian pertama dinamai dengan Ragam Bacaan dan Penulisan. Bagian kedua membahas Jejak dan Khazanah Mushaf di Nusantara. Kemudian bagian ketiga tentang Para Penjaga Mushaf Nusantara.

Bagian pertama, Zainal ingin memperkenalkan istilah-istilah dalam ulumul Qur’an yang berkaitan dengan bacaan dan penulisan Al-Qur’an. Ia pun menyoroti beberapa istilah yang ada di masyarakat, namun berpotensi disalahpahami dalam mushaf Al-Qur’an.

“Misalnya tentang hizb. Masyarakat muslim pada umumnya tahu bahwa hizb ini wirid. Namun istilah ini dalam Mushaf Al-Qur’an dimaknai sebagai pembagian. Jadi, istilah hizb dalam mushaf ini merupakan bagian dari ijtihad ulama untuk memudahkan para pembaca dan penghafal Al-Qur’an agar bisa mengkhatamkan dalam waktu 60 hari atau 2 bulan,” terangnya.

Bagian kedua, Zainal ingin menampilkan berbagai mushaf-mushaf yang beragam bentuknya sejak dahulu kala.
“Di sini saya tampilkan banyak mushaf ya, ada mushaf dengan keterangan pegon Jawa dan kini ada di Rotterdam Belanda, ada juga mushaf yang dianggap garapan Pangeran Diponegoro, hingga Mushaf Pusaka yang diinisiasi Soekarno,” terang Zainal.

Sementara bagian ketiga berisi para penjaga mushaf Nusantara. Ia menyebutkan beberapa instansi dan perorangan yang berperan penting atas kelestarian Mushaf Nusantara, seperti Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, peneliti Ali Akbar, hingga para penulis Mushaf Menara Kudus Jawa Tengah.

Baca Juga : Juara Dongeng Nasional, Mahasiswi Ini Sukses Harumkan IAIN Ponorogo

Atas lahirnya buku ini, Zainal ingin menyampaikan bahwa Mushaf Al-Qur’an di dunia ini memiliki keunikan tersendiri, termasuk di Nusantara. Tentu sisi keunikan ini pada tataran ijtihadiyah para ulama, seperti penggunaan kaligrafi hingga hiasannya.

Ia juga berupaya untuk mengenalkan tradisi intelektual dari perspektif milenial. (EA)

Baca Juga : Dibalik Kisruh Rumah Tangganya dengan Alvin Faiz, Ini Kisah Mualaf “Siti Raisa”